You are currently viewing KINIUKMI Edisi 3: Bertransformasi Menjadi Transformers di Kampus Ultraman

KINIUKMI Edisi 3: Bertransformasi Menjadi Transformers di Kampus Ultraman

Hayoo siapa pencinta transformers???

Di film Transformers, ada satu adegan yang selalu berkesan. Saat Optimus Prime bilang:

Freedom is the right of all sentient beings.”

Kebebasan adalah hak semua makhluk yang memiliki kesadaran

So, Kalimatnya terdengar sederhana, tapi dalam. Karena hidup selalu dihadapkan dengan pilihan dan perubahan. Well, Kita semua datang ke kampus dengan tujuan yang hampir sama: kuliah, lulus, dapet relasi, berprestasi.  Lalu perlahan, muncul sesuatu bukan besar, tapi mengusik.
Entah itu keresahan melihat lingkungan kampus yang makin apatis, atau mungkin obrolan ringan dengan patner diskusi keren yang menyinggung tentang “pencarian makna hidup.” Dari situlah, seseorang mulai berubah.

Bukan karena ingin dikenal. Tapi karena mulai menyadari bahwa hidup yang bermakna tak lahir dari kenyamanan, tapi dari tanggung jawab. Dan dari titik inilah seorang “mahasiswa biasa” mulai bertransformasi  bukan jadi robot logam seperti di film Transformers, tapi jadi manusia yang sadar bahwa dirinya punya kekuatan dan misi.

SO, WHY MUST WE DIFFER?

Di film Transformers, robot-robot itu nggak langsung jadi pahlawan. Mereka datang ke bumi dengan kehilangan, dan kebingungan untuk melakukan pencarian. tapi justru di bumi  lewat perjumpaan, konflik, dan persahabatan mereka belajar makna “berjuang bukan hanya untuk diri sendiri.”

Kampus adalah ruang plural. Di sana ada idealisme, ambisi, ego, dan pencarian jati diri yang bercampur jadi satu. Menjadi “berbeda” di tengah itu bukan hal mudah. Kadang kita merasa sendiri, dijuluki sok alim, atau malah dianggap terlalu anomali. Tapi disitulah ujian sebenarnya bukan sekadar mempertahankan eksistensi, tapi mempertahankan makna dan mengaktuliasasi diri dengan ilmu, amal dan spiritual.

Tahap 1: Kesadaran – Menemukan “AllSpark” dalam diri

Dalam Transformers, benda yang membuat mobil biasa bisa hidup dan berubah bentuk adalah AllSpark sumber energi yang menyalakan kehidupan. Dalam diri manusia, AllSpark itu bernama kesadaran diri dan iman. Kita sering berpikir perubahan butuh momentum besar: peristiwa luar biasa, pengalaman mendalam. Padahal, kadang perubahan justru lahir dari kesadaran kecil dari satu momen hening ketika kita sadar.

Seperti dalam Transformers, Optimus Prime pernah bilang,

There’s more to them than meets the eye.”
Setiap manusia punya lapisan kekuatan yang tak kasat mata . Yups yaitu, potensi spiritual, intelektual, dan moral yang menunggu diaktifkan.

Nice, kurang lebih sama, proses kitapun gak instan. Awalnya mungkin kita kebingungan tapi nilai plusnya kita mau gerak dan cari tau. Awalnya mungkin cuma ikut mentoring, awalnya ikut lomba walaupun kalah coba lagi, atau organisasi yang masih meraba niat awalnya nyari lingkungan dan relasi.Tapi disitu poinnya, setiap perjalanan yang coba dimaknai, mencoba mencari hikmah yang berserakan, dan menyadari bahwa masa pencarian bukan di comfort zone karena dinamikanya luar biasa mendidik mendadak yak. Dulu cuma mahasiswa biasa, sekarang mulai peka terhadap hal-hal kecil: makna teman, nilai perjuangan, sampai pentingnya istiqamah.

Kayak kata James Clear dalam Atomic Habits:
You do not rise the level of your goals. You fall to the level of your systems”. Perubahan besar selalu dimulai dari sistem kecil. Dari rutinitas yang mungkin terlihat sepele: hadir ke halaqah, baca satu ayat, atau bantu satu program kebaikan. Tapi lama-lama, semua itu menumbuhkan makna yang besar. Percaya gak? Kudu percaya sih….

Tahap 2: Berani Beda – Menjadi Hero dengan Versi Diri Sendiri

Menjadi Transformer di kampus Ultraman bukan berarti merasa paling benar atau paling kuat. Justru sebaliknya: kita sadar bahwa setiap orang di kampus ini sedang berjuang dengan versinya masing-masing. Tapi di antara mereka yang mengejar nilai, posisi, dan karier, satu hal yang akan membedakan yaitu sadar peran dan memaknainya.

Di film Transformers, Optimus Prime tak selalu menang karena kekuatan fisiknya. Kadang, ia menang karena visinya jelas: melindungi kehidupan, bukan sekadar bertarung. Begitu pula mahasiswa yang aktif berperan kita bukan hanya “menjadi aktif,” tapi menjadi bermakna. Berani beda bukan berarti melawan arus demi eksistensi, tapi tetap teguh di jalur kebaikan meski arus dunia menertawakan.

Allah nggak minta semua orang jadi sama, tapi Allah pengen kita semua berperan.

Jadi, nggak masalah kamu mau jadi siapa  Optimus Prime, Iron Man, atau bahkan Ultraman
yang penting, kamu tahu untuk apa, kenapa dan siapa kamu berjuang.

Dulu,para sahabat Nabi juga “Transformers” di zamannya.Umar bin Khattab dikenal keras, tapi bertransformasi menjadi pemimpin yang adil setelah hatinya disentuh Al Qur’an.Mush‘ab bin Umair dulunya hidup mewah, tapi memilih jalan dakwah hingga gugur sebagai syuhada.Abu Bakar berjuang lewat harta, Aisyah lewat kecerdasan, Ali lewat keberanian, Bilal lewat keteguhan. Mereka semua berbeda, tapi satu visi: mengabdi pada kebenaran. Menjadi Transformer bukan berarti harus punya kekuatan besar, tapi berani menggunakan potensi yang kita punya  sekecil apa pun  untuk kebaikan.

Kayak kata Viktor Frankl dalam Man’s Search for Meaning:

“Those who have a ‘why’ to live, can bear almost any ‘how.’”
Kalau kamu tahu kenapa kamu melangkah, kamu akan tetap kuat bahkan di jalan yang sepi.

Niat adalah bahan bakar yang bikin kita tetap menyala meski semua orang mulai padam.
Karena pada akhirnya, yang kita kejar bukan tepuk tangan manusia, tapi ridha Allah Ta’ala.

Tahap 3: Menemukan Makna – Dari Aktivis Menjadi Manusia

Semakin jauh seseorang melangkah di jalannya entah di dunia akademik, organisasi, komunitas, atau karya semakin ia sadar bahwa tujuan akhirnya bukan hanya menjadi hebat, tapi menjadi berarti.

Kita sering berpikir transformasi adalah soal naik level: dari mahasiswa pasif jadi aktif, dari pengikut jadi pemimpin. Padahal, transformasi sejati justru terjadi saat orientasi kita berubah: dari mengejar pencapaian menuju mencari kebermaknaan.

Viktor Frankl dalam Man’s Search for Meaning menulis:

“Hidup tidak hanya bertanya apa yang kita inginkan dari dunia,
tapi juga apa yang dunia harapkan dari kita.”

Pertanyaannya bergeser:
Bukan lagi apa yang aku dapat dari proses ini,
tapi apa yang bisa aku beri dari apa yang telah aku pelajari.
Bukan lagi  bagaimana aku terlihat sukses,
tapi bagaimana aku meninggalkan jejak yang menyalakan orang lain..

And the last, kata kata hari ini adalah…

Kita diciptakan bukan hanya sebatas jadi penoton film , tapi kita adalah pemerannya dengan naskah yang sedang kita tulis oleh keberanian kita sendiri. Bertransformasi menjadi super hero versinya masing-masing, but yang paling penting tak lupa tugas dan makna yang terus menyala.

Tinggalkan Balasan