Apa kabar setengah tahunmu? Apakah semuanya berjalan lancar sesuai rencana di awal? Atau semuanya terjadi mengalir begitu saja diluar rencana? Tidak apa, toh jika hidup tidak sesuai dengan apa yang kita rencanakan, berarti ini yang Allah rencanakan.
Yah manusia memang akan selalu banyak maunya padahal kalau disuruh ibadah aja masih ogah-ogahan. Berharap apa?
Kita masih diberi kesempatan hidup saja adalah sebuah nikmat. Tandanya Allah masih memberi kesempatan kita agar senantiasa mengumpulkan bekal untuk sampai di pelabuhan terakhir bernama surga. Semoga kita berlabuh di SurgaNya ya.

Bicara tentang syukur sudah sepaket dengan kehidupan. Ada kalanya, rasa syukur dikaitkan dengan tolak ukur kebahagiaan manusia.
Apa benar ketika kita merasa hidup tak adil tandanya kita kurang bersyukur?
Apa benar ketika kita belum bisa menikmati hari artinya kita tidak bersyukur?
Apa benar ketika kita sudah bersyukur, hidup akan tenang?
Berbagai pertanyaan kerap kali muncul mengenai syukur.
Banyak dari kita masih belum bisa mensyukuri hal-hal yang terjadi, sesederhana bisa bangun di pagi hari dengan tubuh yang tidak sakit, sesederhana memiliki anggota tubuh yang lengkap, sesederhana bisa melihat ciptaanNya yang tak pernah gagal tercipta, dan masih banyak lagi hal kecil nan sederhana yang bisa kita syukuri. Walaupun menurut kita biasa aja, bisa jadi menurut orang lain menjadi sebuah kesyukuran karena nikmat tersebut entah kapan mendatanginya.

Bersyukur bukan menjadi tolak ukur bahagia satu-satunya, tetapi salah satunya. Dengan mensyukuri hal-hal yang terjadi, rasa tenang akan menghampiri dan bahagia akan turut menyertai. Kalau dibilang, hidup tidak bahagia karena kurang bersyukur itu tidak sepenuhnya salah dan tidak sepenuhnya benar juga.
Ada suatu kalimat yang bunyinya;
Sometimes we focus on what we haven’t, until we forget what we have.
Kalau diselami lagi maknanya akan membuat kita berpikir kembali.
Terkadang kita terlalu fokus pada sesuatu yang kita tidak punya, contoh kita menginginkan goals itu agar seperti orang lain dan berusaha mati-matian. Seakan apabila goals tersebut tidak tercapai maka tidak ada lagi hari esok. Kita terlalu fokus membandingkan diri sendiri atas pencapaian pencapaian orang lain, sampai kita lupa dengan apa yang sudah kita punya.
Kenapa harus bersyukur?
Bahkan di Al Quran sendiri, Allah sudah menyebutkan dalam firmanNya;
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan: ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih’.” (QS. Ibrahim: 7).
‘Bersyukurlah, maka akan aku tambah’
Artinya dengan bersyukur nantinya, nikmat itu akan Allah tambah, kembali ke diri kita sendiri.
Lalu, syukur bukan sekadar ucapan “Alhamdulillah”, kan?
Tentu saja. Syukur bukan sekadar ucapan “Alhamdulillah” di lisan dan hati, tetapi tercermin dalam cara pandang, berpikir dalam memaknai seluruh yang datang dan sebaliknya. Kita punya hal-hal yang bisa disyukuri, pencapaian yang menjadikan kita lebih baik dari hari ke hari. Pencapaian tersebut seminimal mungkin menyadari bahwa kita tidak harus memiliki segalanya untuk mencapai ‘tenang’ sekaligus sadar bahwa kita tidak pernah benar-benar kekurangan. Begitu pula terhadap nikmat yang terlihat kecil dan sepele, syukurilah. Jika nikmat kecil saja tidak bisa disyukuri, bagaimana lagi dengan nikmat yang besar. Dalam hadits disebutkan,
مَنْ لَمْ يَشْكُرِ الْقَلِيلَ لَمْ يَشْكُرِ الْكَثِيرَ
“Barang siapa yang tidak mensyukuri sesuatu yang sedikit, maka ia tidak akan mampu mensyukuri sesuatu yang banyak.” (HR. Ahmad, 4:278. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan sebagaimana dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, no. 667, 2:272)
Yuk, pelan-pelan belajar untuk lebih peka, lebih menerima, dan lebih bersyukur. Bukan karena semuanya baik-baik saja, bukan juga karena kita berserah begitu saja, tetapi karena kita percaya bahwa semua adalah bagian dari kebaikan yang Allah siapkan.
Semoga lima bulan ke depan kita bisa lebih sadar akan nikmat, lebih sabar dalam proses, dan lebih tulus dalam bersyukur sehingga menjadi hamba yang mampu bersyukur. _
Referensi: https://rumaysho.com/25932-manfaat-bersyukur-kembali-pada-yang-bersyukur.html